Proses terbang Covid-19 di udara bermula saat terjadi droplet.
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Subandrio menilai coronavirus jenis baru atau SARS CoV-2 dapat bertahan di udara selama delapan jam.
"Dia bisa di udara sampai 8 jam. Cukup lama," ujarnya dalam diskusi bertajuk "Covid-19 dan Ketidaknormalan Baru," disiarkan Trijaya FM, Sabtu (11/7).
Dia menerangkan, proses terbang coronavirus di udara bermula ketika terjadi droplet atau percikan ludah yang keluar saat berbicara, bersin, atau batuk dari seseorang yang terinfeksi Covid-19.
Menurutnya, uapan air dari komposisi droplet menjadi penyebab terjadinya penyebaran coronavirus di udara.
"Kita tahu droplet itu komposisinya virus macem-macem, ada sel plus air. Begitu dia terbang sebagian dari air akan menguap, makin lama dia di udara kadar airnya akan menurun, jadi partikelnya akan makin kecil," tutur dia.