close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti  saat menjadi pembicara pada Retret Kepala Daerah di Lembah Tidar Akmil Magelang, Jawa Tengah, Senin (24/2/2025). Foto istimewa
icon caption
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti saat menjadi pembicara pada Retret Kepala Daerah di Lembah Tidar Akmil Magelang, Jawa Tengah, Senin (24/2/2025). Foto istimewa
Bisnis
Selasa, 25 Februari 2025 09:06

BPS minta kepala daerah dukung Sensus Ekonomi 2026

Sensus Ekonomi 2026 ini, akan memotret secara pasti dan persis kondisi ekonomi Indonesia dan di daerah.
swipe

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, meminta kepala daerah untuk mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Dirinya secara khusus mengimbau pemerintah daerah (Pemda) untuk membantu persiapan tersebut sejak 2025 ini.

“Sensus Ekonomi 2026 ini, akan memotret secara pasti dan persis kondisi ekonomi Indonesia dan di daerah Bapak/Ibu semua,” ujarnya saat menjadi pembicara pada Retret Kepala Daerah di Lembah Tidar Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah, Senin (24/2) malam.

Untuk itu, Amalia meminta dukungan dari para kepala daerah, meliputi gubernur, bupati, dan wali kota untuk mendukung pelaksanaan sensus ekonomi tersebut. Menurutnya, upaya tersebut akan bermanfaat bagi daerah lantaran mampu mengetahui potret ekonomi di daerah masing-masing.

Amalia menjelaskan, kepala daerah dapat memanfaatkan data statistik untuk membentuk kebijakan berbasis data dan fakta. Dengan demikian, proses pembangunan akan berlangsung optimal dan berdampak. Di samping itu, kepala daerah juga akan mampu mengetahui data pasti di daerah lainnya.

“Ibaratnya kalau penyakit, dengan memahami data dan statistik secara menyeluruh maka diagnosa yang Bapak/Ibu lakukan itu nantinya tidak hanya mengobati gejalanya saja tetapi kami berharap dengan data dan statistik yang Bapak/Ibu pahami secara menyeluruh ini dapat menyembuhkan sumber penyakitnya secara langsung, bukan hanya mengobati gejalanya,” imbuhnya.

Dalam forum tersebut, Amalia menjelaskan, data statistik yang biasanya dilakukan untuk mengukur survei pembangunan dibagi menjadi dua, yakni makro dan mikro. Data makro berarti data yang disajikan berdasarkan klasifikasi nasional, provinsi, kota, tetapi bukan berdasarkan individu.

Sebaliknya, data mikro merupakan yang biasanya digunakan untuk pensasaran program pembangunan hingga di level individu. Dengan kata lain, data tersebut juga kerap diartikan sebagai data by name by address.

“Yang kemudian di akhir tahun yang lalu, kami BPS ditugaskan untuk membangun Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN,” tandasnya.

img
Hermansah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan