Di film atau serial kartun, kita melihat hewan bisa berbicara dengan spesies lainnya menggunakan bahasa manusia. Namun, apakah hal itu bisa dilakukan di dunia nyata?
“Bahasa merupakan semacam sistem komunikasi khusus manusia,” ujar profesor antropologi evolusi di Universitas Zurich, Simon W. Townsend kepada Live Science.
Ilmuwan sudah mengetahui cara berkomunikasi beberapa hewan, dengan spesies yang sama. Misalnya, gajah yang saling menyapa dengan mengepakkan telinga atau membuat suara gemuruh, paus sperma yang mengubah suara klik mereka berdasarkan konteks percakapan mereka, dan koloni tikus mol telanjang yang punya “aksen” sendiri.
Kemudian, lumba-lumba punya “siulan” khas untuk berkomunikasi, sedangkan lebah menggunakan apa yang disebut peternak lebah sebagai “goyangan tarian” untuk berbagi lokasi dan jarak ke sumber makanan dengan lebah lain.
Untuk mempelajari perilaku hewan, para ilmuan meneliti fitur-fitur komunikasi tertentu, seperti bunyi yang diduga punya makna khusus. Discover Magazine menulis, semakin kompleks jaringan sosial hewan, semakin maju pula kemampuan hewan tersebut untuk mengomunikasikan informasi.
Bahasa manusia memiliki sifat yang arbitrer. Sementara bahasa tubuh, bentuk komunikasi selain suara pada hewan, tidak ada hubungan inheren antara kata dan objek yang ditujukan.
Penguasaan bahasa verbal yang sesungguhnya belum ditemukan pada hewan. Sedangkan pembelajaran produksi vokal telah ditemukan apda sejumlah kecil hewan, seperti burung kolibri, burung beo, kelelawar, lumba-lumba, dan gajah.
“Di antara hewan-hewan itu, hanya burung beo dan lumba-lumba yang ditemukan mampu menggunakan sinyal yang dipelajari secara acak untuk memberi label pada objek dalam studi eksperimental,” ujar peneliti Stephanie King dan Vincent Janik dalam penelitian yang terbit pada 2013.
Live Science mengingatkan, mempelajari bahasa, bukan hanya tentang memahami apa yang kita dengar. Namun juga tentang kemampuan berbicara.
Untuk kasus ini, burung drongo ekor bercabang atau bernama latin Dicrurus adsimilis dari Afrika unggul. Burung drongo, tulis Live Science, punya kebiasaan mengikuti hewan lain dengan harapan mencuri sebagian makanan mereka.
Burung drongo bisa “menipu” spesies lain untuk mendapatkan sisa makanan, dengan cara mengeluarkan suara memekik yang menunjukkan adanya predator yang mendekat. Burung drongo berekor garpu, tidak hanya mengenali panggilan peringatan dari hewan lain di sekitar mereka, tetapi juga belajar memiru panggilan tersebut untuk keuntungan sendiri.
Saat burung itu menyadari panggilan suara mereka tak lagi berfungsi, mereka mulai meniru panggilan suara burung lain. Bahkan, meniru suara hewan meerkat.
“Mereka tahu cara meniru spesies yang mereka ikuti. Dengan melakukan itu, mereka dapat terus menjalankan tipu daya,” ujar peneliti biologi di Universitas Capilano di Kanada, Thomas Flower, dalam Live Science.
Flower menjelaskan, hal ini menunjukkan burung drongo berekor garpu mampu mempelajari suara dari spesies lain secara fleksibel dan memanfaatkannya untuk keuntungan mereka, seperti mencuri makanan.
“Ini menunjukkan bahwa hewan dapat menjadi pembelajar,” ujar Flower.