

Memaafkan membuat kita lebih bahagia

Momen hari raya Idulfitri dimanfaatkan umat Muslim untuk saling memaafkan. Sebab, kita semua pasti pernah terluka oleh perkataan atau tindakan seseorang.
Penulis buku Some Assembly Required: A Balanced Approach to Recovery from Addiction and Chronic Pain and Roots and Wings, Dan Mager MSW, dalam Psychology Today menyebut, kebencian adalah kemarahan lama atau niat buruk yang terus hidup dengan mengingat kembali penghinaan atau ketidakadilan yang dirasakan di masa lalu dalam pikiran seseorang. Penawar kebencian adalah memaafkan.
Harvard Health Publishing menulis, ada dua sisi memaafkan, yakni keputusan dan emosi. Memaafkan yang berdasarkan keputusan melibatkan pilihan sadar untuk mengganti niat buruk menjadi niat baik.
“Kita tidak lagi menginginkan hal buruk terjadi pada orang (yang sudah menyakiti) tersebut,” ujar salah satu direktur Inisiatif Kesehatan, Agama, dan Spiritualitas di Harvard TH Chan School of Public Health, Tyler VanderWeele.
“Hal ini sering kali lebih cepat dan mudah dilakukan.”
Sementara memaafkan emosional berarti, kita menjauh dari perasaan-perasaan negatif dan tidak lagi berkutat pada kesalahan.
“Memaafkan secara emosional jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama karena perasaan-perasaan tersebut biasanya muncul kembali secara berkala,” kata VanderWeele.
“Hal ini sering terjadi ketika kita memikirkan pelaku, sesuatu yang memicu ingatan, atau kita masih menderita akibat buruk dari tindakan tersebut.”
Ternyata, memaafkan punya manfaat bagi kesehatan mental kita. Dalam penelitian yang dipublikasi BMJ Journals (Maret, 2024) bertajuk “International REACH forgiveness intervention: A multisite randomised controlled trial”, para peneliti secara acak menugaskan 4.598 peserta dari lima negara ke dalam kelompok.
Satu kelompok menerima buku kerja tentang memaafkan dengan tugas yang mereka selesaikan sendiri, seperti menuliskan kisah soal sakit hati tertentu yang ingin dimaafkan; menuliskan dari sudut pandang pengamat, tanpa menekankan sifat-sifat negarif pelaku atau bagaimana kita merasa menjadi korban; serta mengidentifikasi setidaknya tiga perbedaan antara kedua versi tersebut.
Mereka yang berada dalam kelompok kontrol harus menunggu dua minggu, sebelum menerima buku kerja. Saat dua minggu berlalu, para peneliti menemukan, peserta yang telah menyelesaikan tugas di buku kerja merasa lebih pemaaf dibandingkan mereka yang berada dalam kelompok kontrol, serta mengurangi gejala kecemasan dan depresi.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang diterbitkan sebelumnya dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine (2016) berjudul “Forgiveness, stress, and health: A 5-week dynamic parallel process study” dan jurnal Psychology & Health (2021) berjudul “Let it rest: Sleep and health as positive correlates of forgiveness of others and self-forgiveness”.
Dua studi ini menemukan, memaafkan bermanfaat bagi kesehatan mental, dengan cara yang membantu menurunkan stres dan meningkatkan kualitas tidur.
Verywell Mind mencatat, beberapa hal di mana memaafkan memberi dampak positif pada kesehatan mental kita. Pertama, memaafkan dapat membantu mengurangi depresi, kecemasan, dan gangguan kejiwaan utama.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan jurnal BMC Psychology (2020) ditemukan, memaafkan secara signifikan dikaitkan dengan hasil kesejahteraan psikososial yang lebih baik, seperti afek positif, integrasi sosial, serta penurunan hasil tekanan psikologis.
Kedua, menurunkan tingkat stres kronis. Memaafkan, tulis Verywell Mind, bisa membantu menciptakan kedamaian dalam hidup kita dan menyembuhkan luka emosional. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Annals of Behavioral Medicine (2016) meneliti hubungan antara memaafkan, stres, dan perubahan kesehatan mental serta fisik.
Hasil penelitian itu menemukan, peningkatan sikap memaafkan dikaitkan secara signifikan dengan penurunan stres dan gejala kesehatan mental. Para peneliti menduga, kemungkinan ada efek timbal balik antara stres dan sikap memaafkan.
Misalnya, memaafkan bisa jadi merupakan mekanisme penanganan yang digunakan untuk meredakan persepsi stres yang menyebabkan gejala kesehatan mental. Di sisi lain, peningkatan kesehatan mental dikaitkan dengan penurunan stres yang meningkatkan kemampuan memaafkan.
Ketiga, memaafkan dapat membantu kita melepaskan kebencian, menenangkan pikiran, menciptakan kedamaian dengan diri sendiri, mengurangi rasa gelisah, dan meningkatkan energi kita.
“Merasa marah sesekali adalah hal yang wajar dan sehat. Namun, terus-menerus merasa marah karena memikirkan kekecewaan di masa lalu dapat menjadi racun bagi kesehatan fisik, mental, dan emosional kita,” tulis Verywell Mind.
Keempat, memaafkan dapat berdampak pada harga diri kita. Sebab, memaafkan seseorang yang menyakiti kita dengan menunjukkan empati dan kasih sayang, bisa mengubah cara kita memandang diri sendiri.
“Dengan memaafkan, kita membersihkan diri dari rasa sakit dan amarah yang membuat kita terjebak di masa lalu,” ujar Dan Mager dalam Psychology Today.
“Hal ini membuat kita untuk lebih hadir secara mental, emosional, dan spiritual di masa kini dan menciptakan lebih banyak ruang untuk kepuasan, kedamaian pikiran, serta kedamaian hati.”


Berita Terkait
Media sosial memperparah gangguan delusi
Floating duck syndrome: Ilusi mengejar kesempurnaan
Kenapa personel TNI rentan bunuh diri?
Orang yang tinggal di dataran tinggi lambat mengenali fitur wajah

