Di tempat kerja, tingkat ketidakpuasan karyawan terhadap pekerjaan bisa berlangsung terus-menerus. Kondisi kebahagiaan karyawan ini mengandung informasi ekonomi yang penting bagi para pengusaha dan pembuat kebijakan.
Menurut profesor ekonomi pertanian dan terapan di Universitas Georgia, Susana Ferreira, kita pasti berharap agar pekerja dibayar secara adil untuk pekerjaan mereka. Pandangan itu tergantung pada kondisi pekerjaan dan pasar tenaga kerja yang sempurna serta mengasumsikan bahwa pekerja bersikap rasional, memiliki informasi penuh tentang kondisi kerja, dan dapat berganti pekerjaan dengan mudah.
“Orang yang tidak dibayar cukup untuk mengimbangi risiko pekerjaan yang mereka hadapi mungkin akan mencari pekerjaan lain. Jika kondisi kerja mereka sangat baik, mungkin mereka akan menerima upah yang lebih rendah,” ujar Ferreira dikutip dari situs University of Georgia.
“Seharusnya ada mobilitas tenaga kerja, tetapi sering kali kita melihat, pekerjaan terburuk juga adalah pekerjaan yang membayar paling rendah, terutama di pasar kerja yang sangat tidak fleksibel.”
Di sisi lain, dikutip dari EuroNews, dalam survei ManpowerGroup tahun lalu disebut, setengah dari pekerja di 10 negara Eropa melaporkan mengalami stres harian terkait pekerjaan, dengan sepertiga mengatakan mereka tidak yakin ada cukup peluang untuk mencapai tujuan kariernya. Sepertiga mempertimbangkan untuk pindah kerja dalam enam bulan ke depan, dan 58% yakin mereka dapat menemukan pekerjaan lain yang memenuhi kebutuhan mereka.
Survei itu mengungkap, stres di tempat kerja sangat umum di seluruh Eropa, dengan rata-rata 48% pekerja di 10 negara Eropa melaporkan stres harian di tempat kerja. Spanyol menjadi negara teratas dengan pekerja yang melaporkan mengalami stres, dengan 58%. Diikuti Swedia dan Italia dengan 53%, serta Polandia dengan 51%.
Survei tersebut didasarkan pada data yang dikumpulkan lebih dari 12.ooo pekerja. Selain 10 negara Eropa, rata-rata global mencakup informasi dari enam negara lain, seperti Australia, Kanada, Jepang, Meksiko, Singapura, dan Amerika Serikat.
Dalam penelitian yang diterbitkan Journal of Environmental Economics and Management (Maret, 2025), Susana Ferreira dan rekan-rekannya menganalisa data hampir 35.000 pekerja Eropa di seluruh sektor pekerjaan pada 30 negara. Mereka menemukan pola terkait bagaimana para pekerja merasakan pekerjaan mereka.
“Orang-orang yang upahnya lebih rendah cenderung kurang puas dengan pekerjaan mereka. Orang-orang yang menghadapi risiko lebih tinggi cenderung kurang puas dengan pekerjaan mereka. Orang-orang yang menghadapi kondisi yang lebih buruk cenderung kurang puas dengan pekerjaan mereka,” kata Ferreira.
Namun, penelitian ini juga mengungkapkan "harga" dari menghadapi kondisi tersebut. Penelitian ini menemukan, rata-rata pekerja harus menerima kompensasi sekitar 29 dolar AS per jam untuk menghilangkan semua risiko kesehatan dan keselamatan yang mereka rasakan di tempat kerja agar tetap puas dengan posisi mereka.
Penelitian ini juga menemukan, menghindari hari libur akibat kecelakaan kerja memiliki nilai sekitar 362 dolar AS per tahun, dan peningkatan kondisi tempat kerja memiliki nilai lebih dari 12.000 dolar AS per tahun.
"Jika Anda dapat memahami kepuasan kerja, Anda dapat memperkirakan berapa banyak yang harus Anda bayar lebih kepada pekerja Anda untuk menerima risiko yang lebih tinggi," kata Ferreira.
Ferreira mengatakan, penelitian ini menunjukkan kepuasan di tempat kerja jauh lebih penting daripada yang diakui oleh beberapa pemberi kerja. Gaji yang lebih tinggi dan lingkungan kerja yang lebih aman dapat memberikan dampak besar pada kepuasan pekerja. Dan pekerja yang lebih bahagia dapat membawa banyak hal baik bagi bisnis itu sendiri.
"Memperhatikan perasaan orang itu penting," kata Ferreira. "Menanyakan kepada pekerja secara umum tentang perasaan mereka dan mengumpulkan data kesejahteraan subjektif mengandung banyak informasi ekonomi penting yang cenderung diabaikan oleh para ekonom."
Mengakui kesejahteraan karyawan di tempat kerja dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif, yang pada akhirnya dapat membawa manfaat ekonomi yang luas.
"Penelitian ini dapat mengarah pada cara yang lebih baik untuk memperkirakan dan mengukur manfaat lingkungan dan kontribusi terhadap kesejahteraan dengan cara yang dapat memberikan informasi untuk kebijakan," ujar Ferreira.