close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Dewi Sukarno (kiri) bersama calon gubernur Prefektur Hyogo, Takayuki Shimizu di Okinawa, Jepang, Rabu (6/11/2024)./Foto Instagram @dewisukarnoofficial
icon caption
Dewi Sukarno (kiri) bersama calon gubernur Prefektur Hyogo, Takayuki Shimizu di Okinawa, Jepang, Rabu (6/11/2024)./Foto Instagram @dewisukarnoofficial
Politik
Jumat, 21 Februari 2025 16:01

Dewi Sukarno dan kontroversi cita-cita hak asasi hewan

Dewi Sukarno berencana melepas kewarganegaraan Indonesia demi ambisi politiknya.
swipe

Dewi Sukarno berniat melepaskan kewarganegaraan Indonesia, kembali menjadi warga negara Jepang, setelah memutuskan mendirikan partai politik. Dia juga berambisi maju menjadi anggota legislatif dalam pemilu musim panas mendatang di Jepang.

Dewi Sukarno, kini berusia 85 tahun, lahir di Tokyo pada 6 Februari 1940 dengan nama Naoko Nemoto. Dia pernah bekerja sebagai karyawan asuransi jiwa, sebelum terjun ke dunia hiburan televisi.

Kehidupannya berubah setelah dinikahi presiden pertama Indonesia, Sukarno pada 1962. Ketika itu, dia menjadi istri ketiga—jika tidak dihitung dengan istri Sukarno yang sudah bercerai—Bung Karno. Namanya diubah menjadi Ratna Sari Dewi Sukarno dan menjadi warga negara Indonesia.

Usai Sukarno meninggal pada 1970, Dewi meninggalkan Indonesia, tinggal di beberapa negara, seperti Prancis, Swiss, dan Amerika Serikat. Dia sempat kembali ke Indonesia pada 1980-an. Lalu, tahun 2008 pindah lagi ke Tokyo, melanjutkan bisnis bidang perhiasan dan menjadi selebritas televisi.

Tahun 1992 Dewi pernah bertengkar dengan cucu bekas presiden Filipina, Minnie Osmena, dalam sebuah pesta kaum jetset di Aspen, Amerika Serikat. Dia menyayat wajah Osmena, hingga mendapat 37 jahitan. Atas perkara itu, Dewi dipenjara selama 34 hari dari 60 hari hukuman di penjara Pitkin Country, Amerika Serikat.

Dewi juga mendirikan Earth Aid Society, sebuah yayasan yang menggalang dana kemanusiaan. Dia pernah mengunjungi Kashmir, Pakistan, usai gempa bumi pada 2005 dan menyerahkan 2.556 selimut serta 3.500 jaket kepada Bulan Sabit Merah Internasional di Pakistan.

“Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, dalam setahun saya bisa menggelar hingga lima kali acara amal untuk menggalang dana bagi masyarakat yang membutuhkan, seniman dan musisi miskin, serta kelompok perlindungan hewan,” kata Dewi kepada Tatler Asia.

Menurut Japan Times nama partai politik yang bakal didirikan itu 12 Heiwa To (Partai Perdamaian 12). Heiwa artinya perdamaian. Sedangkan 12 bisa diartikan wan-nyan, gabungan suara bow-wow untuk anjing dan meow untuk kucing.

Dalam konferensi pers awal Februari 2025, Dewi mengatakan, tindakan pertama dan terpenting yang ingin dicapai partai politik itu adalah memberlakukan undang-undang yang melarang memakan anjing dan kucing. Selain itu, bakal melindungi anjing dan berupaya hidup berdampingan dengan manusia.

Partai politik itu pun akan mendirikan lembaga khusus untuk mengawasi penyiksaan hewan dan memperberat hukuman atas tindakan itu. Targetnya adalah memenangkan sedikitnya dua atau tiga kursi di majelis tinggi parlemen Jepang.

Menurut Asahi, partai tersebut bakal dibantu seorang konsultan politik bernama Shinnosuke Fujikawa untuk mengembangkan strategi pemilu. Sementara mantan wali kota Akitakata, Prefektur Hiroshima, Shinji Ishimaru menjabai sebagai sekretaris jenderal partai.

Kondisi anjing dan kucing di Jepang memang menjadi sorotan. Menurut Japan Today, Jepang memiliki 6,8 juta anjing dan 9 juta kucing.

“Jika semua anjing dan kucing peliharaan di Jepang disatukan di satu tempat, mereka akan membentuk kota terbesar kedua di Jepang,” tulis Japan Today.

Japan Today menulis, obsesi orang Jepang terhadap hewan peliharan cenderung kekanak-kanakan dan tidak stabil. Mereka dapat langsung membeli anjing atau kucing, setelah melihat seorang selebritas menggendong anjing jenis dachshund atau chihuahua kecil yang lucu di televisi atau media sosial.

Akan tetapi, minggu-minggu dan bulan-bulan berikutnya, mungkin cenderung mengabaikan tanggung jawab untuk merawatnya.

“Seperti yang terlihat dari 14.500 anjing dan kucing yang dibuang dan disuntik mati di tempat penampungan hewan di seluruh Jepang pada 2001—walau jumlah itu jauh berkurang dari 46.000 pada 2014,” tulis Japan Today.

Beberapa tahun lalu, Prefektur Ibaraki dikenal karena memusnahkan anjing liar dan anjing penampungan terbesar di Jepang. Selain anjing, kucing telantar juga dimusnahkan jika tidak ada “rumah baru” yang ditemukan atau mereka dianggap “tidak cocok” untuk dipindahkan lantaran penyakit atau perilakunya.

Di sisi lain, Tokyo Weekender menilai, meski Dewi punya tujuan mulia, tetapi sama sekali mengabaikan penderitaan hewan secara umum. Lagi pula praktik memakan anjing dan kucing, disebut media Jepang itu lebih umum di China dan Korea Selatan, tidak tersebar luas di Jepang.

“Bahkan, Nikken Geidai mencatat bahwa daging anjing terakhir yang diketahui diimpor ke Jepang adalah pada 2017, dan tidak pernah diimpor lagi sejak saat itu,” tulis Tokyo Weekender.

Perubahan haluan ke arah hak asasi hewan, menurut Tokyo Weekender, tampak tidak tulis mengingat selera Dewi yang mahal terhadap mantel bulu. Tahun 2019, dia menjadi sorotan ketika menggugat sebuah hotel karena merusak lengan mantel bulu musangnya yang seharta 40 juta yen, dengan klaim mantel itu berisi bulu dari 60 hingga 70 bulu musang emas Rusia.

“Sejak itu, dia terlihat mengenakan pakaian yang tampak seperti berbagai jenis binatang dan menenteng tas tangan berbentuk buaya,” tulis Tokyo Weekender.

Nikkan Gendai juga menulis, mereka menemukan foto Dewi yang mengenakan sesuatu mirip mantel bulu. Foto tersebut baru diunggah tahun ini di media sosialnya. Foto Instagram lain yang diidentifikasi Nikkan Gendai tertanggal 21 Januari 2022, memperlihatkan Dewi mengenakan mantel bercorak macan tutul dan tas yang seperti terbuat dari kulit buaya.

Dalam sebuah konferensi pers, dikutip dari Unseen Japan, saat ditanya tentang perburuan paus, Dewi secara terbukan mengatakan dia tidak peduli dengan paus dan hanya fokus pada hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing.

“Selain itu, partai tersebut hanya akan dipertimbangkan untuk dipilih jika Dewi dinaturalisasi tepat waktu untuk pemilu musim panas, yang menyebabkan beberapa orang berspekulasi pengumuman (mendirikan partai) tidak lebih dari sekadar aksi publisitas,” tulis Tokyo Weekender.

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan